Generasi Muda Bisa Berwirausaha

Indonesia merupakan negara yang mempunyai jumlah penduduk yang sangat banyak, bahkan terbanyak ke-5 di dunia. Namun, masih sedikit penduduk Indonesia yang dapat mengimbangi prestasi seperti prestasi internasional yang ditorehkan penduduk negara lain. Perlu adanya sebuah perjuangan, kerja keras dan kerja cerdas untuk membenahi potensi Sumber Daya Manusia yang dimiliki Indonesia. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas memberikan pengaruh kerja nyata apabila didayagunakan dengan optimal. Selain itu, SDM merupakan faktor utama dan strategis bagi tercapainya keberhasilan pembangunan suatu bangsa. SDM yang kuat dan berdaya saing tinggi dalam berbagai aspek akan mendukung peningkatan pembangunan, baik di bidang ekonomi maupun di bidang sosial dan budaya.

Perlu Peningkatan Sumberdaya Manusia yang berjiwa Wirausaha

Apabila melihat dari aspek ekonomi, Jumlah penduduk Indonesia kini tak sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia. Hingga Februari 2011 saja jumlah penganggguran di Indonesia, dengan latar belakang pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, atau bahkan Sarjana, mencapai 8,12 juta orang dengan jumlah angkatan kerja mencapai 119,4 juta orang (BPS, 2011). Diperlukan Sumber Daya Manusia yang memiliki jiwa wirausaha untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat dan mengurangi pengangguran secara tidak langsung.

Wirausaha adalah kemampuan atau keberanian yang dimiliki seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih kesuksesan. Kegiatan wirausaha sangat mendukung terciptanya negara yang makmur dalam hal perekonomian.  Namun kenyataannya hingga saat ini, hanya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang menjadi wirausahawan. Terbukti dari 231,83 juta jiwa penduduk Indonesia, baru 4,6 juta saja yang berwirausaha (Kompas, 2010).

Jumlah wirausahawan di Indonesia, yang hanya mencapai 0,24 persen dari total penduduk, masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi.  Bandingkan saja dengan negara-negara di Asia, persentase penduduk Singapura yang berwirausaha mencapai 7 persen, Malaysia mencapai 5 persen, sementara China dan Jepang mencapai 10 persen. Hal tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah wirausahawan di Amerika Serikat yang mencapai 11,5-12 persen. (BPS, 2011)

Melihat perbandingan jumlah wirausahawan di negara maju dengan jumlah wirausahawan di Indonesia, maka wajar jika laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih lambat. Oleh karena itu, diperlukan penanaman jiwa kewirausahaan sejak dini kepada masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Terlebih saat ini, Antara News (2011) menyebutkan bahwa jumlah pengangguran dilihat dari segi pendidikan didominasi oleh mereka yang tidak bersekolah atau tidak tamat SD, lulusan SD, dan SMP yang mencapai sekitar 50 persen. Lulusan SMA sebesar 40 persen, sedangkan sisanya lulusan Sarjana dan/atau Diploma mencapai sekitar 10 persen.

Generasi Muda sebagai Generasi Perubahan
Generasi muda harus dibimbing sejak dini untuk mengembangkan kepemimpinannya terlebih di bidang kewirausahaan. Hal inilah yang nantinya dapat mengembangkan potensi soft skill yang dimiliki. Dengan Soft Skill yang ditanamkan baik itu melalui pelatihan ataupun pendidikan kewirausahaan secara langsung akan melahirkan
generasi muda dengan jiwa wirausaha dan kepemimpinan yang berkarakter. Mereka mampu menciptakan dan tentu saja mengembangkan bisnis dengan inovasi-inovasi yang terbarukan. Paradigma masyarakat Indonesia pun akan berubah, yang awalnya sebagai pencari kerja menjadi  penyedia lapangan kerja. Dilihat dari sudut pandang makro, devisa negara pun akan bertambah melalui kegiatan wirausaha dan secara tidak langsung menjadi faktor pendukung dalam memajukan sebuah negara.  Lahirnya generasi muda yang berkompeten di bidang wirausaha, kelak negara Indonesia akan menjadi negara sejahtera dengan laju pertumbuhan ekonomi yang cepat serta tingkat kemakmuran masyarakat yang tinggi. Generasi muda inilah nantinya yang akan menjadi kader pembawa perubahan bagi Indonesia ke arah yang lebih baik.

Mari Berwirausaha

Memang jika memandang kewirausahaan, layaknya seorang wirausahawan kita harus menjadi pribadi yang berani mengambil resiko ditengah keadaan yang telah “Nyaman” dirasakan saat ini menuju sebuah perubahan. Nah setidaknya menurut Jay Teroris (2011) ada empat hal yang menjadi nilai inti seorang wirausahawan. Analogi keberhasilan wirausaha itu adalah sebuah tong yang berisi air, maka ada 4 hal bolong-bolong yang senantiasa merusak keberhasilan wirausaha. Dan keempat bolongan itu harus ditambal dengan 4 buah sikap kewirausahaan yang dimiliki oleh seorang pengusaha. Adapun tambalan-tambalan bolongan itu adalah:

    1. Trust
      Trust atau kejujuran adalah unsur yang mendasari keberhasilan seseorang tak hanya bagi pengusaha semata. Karena seluruh aspek kehidupan sangat membutuhkan sikap ini. Bahkan dari contoh rosulullah S.A.W, beliau pun berhasil dalam kehidupannya diawali dengan sikap trust dan mendapat gelar Al-Amin yaitu sosok yang dapat dipercaya sehingga menghantarkan beliau menjadi pengusaha di zamannya dan memegang amanah sebagai Rosul.
    2. Keberanian
      Keberanian meyangkut dengan kemampuan seseorang dalam mengambil tindakan. Esensi keberanian berarti siap untuk mengambil risiko terhadap hal-hal yang telah diputuskan. Begitu pun dengan
      kewirausahaan, Keberanian adalah sosok yang diperlukan dalam memulai untuk berwirausaha. Berani, berarti belajar untuk berkata tidak atau menolak ajakan yang tidak bermanfaat karena itu akan membuang waktu saja dengan percuma, sehingga dengan keberanian inilah seorang pengusaha bisa focus terhadap hal-hal yang menjadi visi hidup baik jangka pendek maupun jangka panjang yang telah direncanakan.
    3. Ketekunan
      Keberhasilan kerja keras adalah bisa dilihat dari ketekunan. Semakin tekun seorang pengusaha, maka jika suatu saat ia terjatuh maka akan menjadikan hal yang telah didapatnya sebagai sebuah pelajaran agar tidak diulangi lagi. Dan mencari cara lain yang bisa mensukseskannya. Tekun adalah harga mahal dari sebuah ketelitian dalam berwirausaha, yang dengannnya dapat mengantarkan ke pintu intuisi dalam melihat peluang.
    4. Momentum
      Momentum, berarti mencari waktu yang tepat. Ya, layaknya sebuah pemenang, mereka tidak akan selamanya menang dalam setiap kesempatan akan tetapi ada suatu waktu yang mengantarkan dirinya menjadi seorang yang special. Momentum berkaitan erat dengan yang namanya kesabaran. Marilah jika kita telah melaksanakan usaha seoptimal yang kita bisa, jangan berputus asa akan tetapi bersabarlah, dan berdoa agar momentum untuk kita berhasil akan diberikan jalan Oleh-Nya dengan jalan kesabaran.

Akhirnya, Tidak ada yang lebih bermakna selain DUIT (doa-usaha-iman-taqwa). Oleh karenanya mari sebagai generasi muda perbanyak DUIT, dan DO IT! Dengan membangun Bangsa melalui Wirausaha.

About kang Rahmat

Sedang berusaha membangun ABdi Group, MRL, dan M&M. | mau lebih kenal dekat, cek Notes kang Rahmat di http://rahmatnugraha.net

Posted on 3 Februari 2012, in Entrepreneurship, Featured, Marketing and Business, Opinion and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: