BMT (Baitul Maal Wa Tamwil) sebagai Public Institutional Capital ” Kecil yang Membesarkan Masyarakat”

Betapa pentingnya pencitraan, memang kemiskinan seakan menjadi aib di negeri ini. Kemiskinan bak menjadi fakta social yang nyaris absolut. Indonesia dengan sumberdaya manusia yang memiliki tingkat kualitatif tinggi seharusnya bisa menekan kemiskinan dengan bekerjasama kolektif untuk mengentaskan kemiskinan. Beberapa studi menyebutkan, Situasi kemiskinan menurut Jeffrey sach dalam buku The End Of Proverty (2005) ditandai dengan tidak adanya lima macam Modal: Pertama,Human Capital (kesehatan, pendidikan). Kedua, Business CapitalKetiga, Infrastruktur (jalan, listrik, perlindungan lingkungan). Keempat, Public Institutional capital (administrasi public yang dikelola dengan baik, system pengadilan, polisi) dan terakhir Knowledge capital.

Apabila menelaah lebih dalam, ada peran strategis dari kelima unsur modal apabila dapat saling bersinergi untuk mengoptimalkan peran dibidangnya masing masing. Dalam pemenuhan hidup orang banyak. Salah satu bidang yang memiliki peranan penting adalah Public Institutional Capital.

BMT (BAITUL MAAL WA TAMWIL) sebagai PUBLIC INSTITUTIONAL CAPITAL

Akses BMT yang Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan Lembaga Keuangan Mikro Syariah ini menunjukkan bahwa keberadaan lembaga keuangan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Peranan LKMS sangat dominan terhadap pelaku usaha mikro karena dapat menjangkau masyarakat lapisan bawah. Operasional LKMS umumya berada di wilayah kabupaten dan kota.  Salah satu Lembaga Keuangan Mikro Syariah yang banyak ditemui ialah Baitul Maal Wa Tamwiil (BMT). Karena sifatnya yang terbuka untuk semua kalangan dalam hal membantu perekonomian masyarakat kecil dan di berbagai sector, tentu BMT ini memiliki Kelebihan di bandingkan dengan Public Institutional Capital Lainnya.

 

PERAN BMT

Peranan lembaga BMT bagi pelaku usaha kecil dan mikro sudah tidak diragukan lagi. Penyaluran modal mudah dan cepat menjadi faktor utama yang membuat masyarakat mengambil BMT sebagai mitra usahanya. Selain itu, pendekatan personal yang terjalin antara BMT dengan pelaku usaha cukup erat. Hal ini disebabkan lembaga ini ikut mengembangkan  kegiatan usaha mitranya. Pada jaman Rasulullah (1-11 H/622-632 M) baytul maal wattamwil (BMT) mulai berdiri dan memegang peranan yang penting bagi umat muslim. Pada saat itu BMT bukan hanya menjadi alat pemerataan pendapatan bagi umat muslim karena fungsinya yang mengumpulkan dan menyalurkan harta rampasan perang kepada pihak-pihak yang membutuhkan, tetapi juga sebagai alat pereda konflik antar para sahabat rasul yang pada saat itu sempat berselisih paham mengenai pembagian harta perang (Basid, 2009)

BMT mempunyai pengaruh yang cukup tinggi terhadap sektor pertanian. Kurangnya modal petani serta sulitnya akses petani ke perbankan mendorong petani untuk bermitra dengan BMT. Walaupun sebenarnya pemerintah telah banyak memberikan bantuan modal kepada petani berupa program kredit seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Ketahanan Pangan (KKP)  dan lain-lain, namun belumlah cukup. Hal ini disebabkan tidak meratanya pembagian kredit serta tidak tepat sasaran. Sementara itu, kalangan perbankan juga telah menyalurkan bantuan kredit. Disisi lain sektor pertanian memiliki risiko tinggi dalam hal tingkat pengembalian pinjaman, sehingga perbankan hanya megucurkan kredit bagi petani-petani besar. Oleh karena itu, kehadiran BMT ditengah kegalauan petani sangatlah membantu. Kemudahan pembiayaan BMT tanpa agunan, membuat petani memilih pembiayaan tersebut. Selain itu, petani dapat pula terhindar dari cekikkan bunga rentenir.

Namun, walau sudah menjamur di berbagai kota dan kabupaten, ternyata masih banyak masyarakat terutama di daerah pelosok kabupaten yang belum mengetahui BMT ini. Rekonstruksi pemikiran terhadap sistem yang telah diajarkan oleh islam selayaknya menjadi tuntutan tersendiri bagi kita yang tahu ilmunya untuk menyampaikannya kepada orang yang mengetahui, survey yang telah dilakukan dari 61 koresponden di suatu desa (indonesiamengabdi, 2011) memperlihatkan bahwa hampir 90% masyarakat pedesaan kurang mendalam dan mengamalkan sistem islam dalam kehidupannya. hal ini selaras dengan kurangnya sosialisasi secara mendalam dan kekurangfahaman dalam menerapkan secara langsung transaksi islami dalam setiap kehidupannya. Jika dilihat dari sisi pemikiran, datangnya globalisasi yang sekarang ada kita cendrung mendekonstruksikan pemikiran terhadap pemikiran islam, padahal seharusnya dengan Resourches yang melimpah di indonesia kita bisa bangkit dari keterpurukan apabila kita telah merekontruksi pemikiran kita (sudah bukan saatnya lagi kita, hanya bisa: melempar tongkat dan batu, sehingga jadi tanaman). yang harus kita lakukan adalah mengindahkan tongkat dan batu menjadi mercusuar dan sumber energi terbarukan. Sehingga dengan mengetahui BMT setidaknya kita tahu satu cara untuk memperbaiki pemikiran dengan sistem ekonomi kita.

Begitu banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh para stakeholders dan masyarakat penggerak Sektor Syariah terutama BMT agar bisa mengoptimalkan perannya secara sosial dan ekonomi dan dapat dirasakan keberadaannya oleh para masyarakat. Setidaknya, beberapa tinjauan mengenai BMT tadi seharusnya bisa membuktikan pernyataan Naqvi (1981), bahwa pembangunan yang bekelanjutan tidak akan tercipta tanpa adanya keseimbangan antara lembaga keuangan, pengusaha mikro, dan pemerataan kesejahteraan sosial.

Secara prinsip, Islam mencoba membangun ketiga hal yakni: Lembaga Keuangan, Pengusaha Mikro, dan Pemerataan Kesejahteraan Sosial secara bersamaan dan seimbang tanpa mengorbankan suatu pihak, dan salah satu sarana yang bisa ditempuh adalah dengan membangun dan mengatur BMT dengan baik dan memberikan kebaikan kepada masyarakat, pengusaha dan pengatur BMT itu sendiri, sehingga apabila hal ini dapat dilakukan dengan optimal, sekalipun BMT kecil akan tetapi dapat membesarkan masyarakat, agar hajat hidup orang banyak dapat dipenuhi menuju Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Wallahu’alam Bissawab

Sering kali ada produk-produk kehidupan kita yang banyak dan kadang mengganggu Idealismebahkan keyakinan dari luar yang sangat meyakinkan (padahal belum tentu semua itu selaras dengan acuan dari Allah S.W.T) hal ini berawal dari Idealisme yang terukir dalam diri kita akan bertemu dengan realitas objektif yang di luar perkiraan. DAN orang-orang yang berpegang pada  idealisme-lah yang akan lolos dari cobaan itu.

About kang Rahmat

Sedang berusaha membangun ABdi Group, MRL, dan M&M. | mau lebih kenal dekat, cek Notes kang Rahmat di http://rahmatnugraha.net

Posted on 21 Mei 2011, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: